Pencarian Korban yang Diduga Tenggelam di Sumur Minyak Tunggu Hasil Asesmen Tim Ahli Pertamina

Pencarian Korban yang Diduga Tenggelam di Sumur Minyak Tunggu Hasil Asesmen Tim Ahli Pertamina

PJ Sekda Muara Enim, H. Emran Thabrani memimpin rapat koordinasi upaya proses evakuasi korban yang diduga meninggal di dalam sumur minyak di Desa Darmo, Muara Enim. Foto : OZI/ENIMEKSPRES.CO.ID--

ENIMEKSPRES.CO.ID, MUARA ENIM - Upaya pencarian dan evakuasi Mas'ud, warga Musi Banyuasin yang dilaporkan hilang sejak 21 Mei 2022 lalu, yang diduga tenggelam di dalam sumur galian minyak ilegal di area Desa Darmo, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumsel masih menunggu hasil asesmen tim ahli PT Pertamina.

Upaya pencarian korban tersebut, disampaikan Pemerintah Kabupaten Muara Enim saat menggelar rapat koordinasi (Rakor) yang dipimpin langsung oleh Pj Sekda Muara Enim, H. Emran Tabrani, di ruang rapat Serasan Sekundang, Muara Enim, Selasa (21/6/2022).

Dalam rakor itu, hadir Polsek Lawang Kidul, BPBD, DPKP, Camat Lawang Kidul, Kades Darmo, Tim SAR Gabungan, Resque PTBA, Resque PT PAMA, Resque PT SBS, dan Tim PT Pertamina, serta perwakilan keluarga korban.

Rapat tersebut diawali dengan pemaparan kronologis kejadian sesuai dengan laporan dan upaya pencarian di lokasi yang diduga TKP oleh Kapolsek Lawang Kidul Iptu Yogie Sugama Hasyim.

Kapolsek menerangkan, diketahuinya kejadian itu bermula dari laporan keluarga korban ke Polsek Lawang Kidul, pada Minggu (5/6/2022).

Mendapat laporan tersebut, tim Polsek Lawang Kidul berangkat ke lokasi yang diduga TKP bersama keluarga dan Pemerintah Desa Darmo. 

Di lokasi didapati dua sumur galian. Sumur pertama itu diduga dibuat saat masih zaman belanda, di sampingnya ada satu sumur galian lainnya yang digali sendiri, yang menurut keluarga korban merupakan tempat korban terjebak.

Pihaknya, sudah berusaha mengumpulkan data dan melakukan upaya pengungkapan dugaan tersebut bersama tim Resque PTBA, disaksikan oleh keluarga yang diduga korban beserta perangkat desa.

Kepala BPBD, Abdurrozieq menerangkan, pihaknya setelah berkoordinasi dengan Basarnas menyimpulkan bahwa setelah kajian SOP dan minimnya peralatan maka dibutuhkan bantuan dari pihak ahli.

"Karena peralatan yang dimiliki Basarnas ini untuk upaya penyelamatan di dalam air, sementara kita akan terjun melakukan evakuasi ke dalam sumur minyak yang mengandung gas,” terangnya.

Lanjut Rozieq, pihaknya pada Jumat 10 Juni 2022  mencoba berkoordinasi dengan PT Pertamina dan Kapolsek. Namun disarankan untuk berkonsultasi dengan SKK Migas.

Hingga akhirnya BPBD menyurati PT Pertamina untuk dilakukan upaya evakuasi terhadap korban.

"Hasilnya untuk segi teknis, BPBD dan Basarnas belum memiliki peralatan yang memadai untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.

Perwakilan Tim Resque PTBA mengatakan, berdasarkan hasil pantauan di lokasi yang diduga tempat kejadian, didapati kandungan gas metan yang tinggi.

Dari pagi hari sampai sore hari upaya evakuasi tersebut belum menemui hasil atau tidak terlihat sama sekali adanya tanda-tanda keberadaan yang diduga korban.

“Sebelum melakukan evakuasi, kami minta ada kajian singkat terlebih dahulu, terkait permasalahan apa yang akan kita hadapi jika melakukan evakuasi,” ucapnya.

Di penghujung rapat koordinasi tersebut, berdasarkan tukar pendapat dan sumbang saran serta masukan dari berbagai pihak, Pj Sekda Muara Enim H. Emran Tabrani menegaskan, Pemerintah Kabupaten Muara Enim memiliki tanggungjawab moril terhadap kejadian ini.

“Maka kita masuk ke ranah teknis upaya evakuasi yang diduga korban di dalam sumur galian minyak tersebut, sesuai dengan pandangan ketua tim SAR gabungan bahwa akan dilakukan evakuasi menggunakan alat berat, melihat kedalaman sumur yang diperkirakan hanya sedalam kurang lebih 5 meter,” jelasnya.

Namun sebelum itu, hari ini (Rabu, 22/6/2022) PT Pertamina akan melakukan kajian singkat terlebih dahulu, untuk melakukan asesmen terkait lokasi tempat berlangsungnya proses evakuasi nanti.

"Setelah dilakukan asesmen tersebut, hasilnya segera buat dan laporkan tertulis ke BPBD ditembuskan ke Polsek Lawang Kidul. Barulah berdasarkan laporan tersebut apakah besoknya, Kamis (23/6/2022) bisa dilakukan evakuasi atau tidak,” pungkasnya. (ozi/mg01)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: