Jangan Tunggu Kuning, Hepatitis Masih Jadi Epidemi Diam di Indonesia
dr. Ahmar Abyadh, Sp.PD-KGEH, FINASIM, Mkes. Foto : Istimewa--
ENIMEKSPRES.CO.ID - Wajah ceria seorang anak tak selalu mencerminkan kondisi kesehatannya.
Tak sedikit anak Indonesia yang tanpa disadari telah membawa virus hepatitis B atau C sejak lahir.
Kondisi ini sering tak terdeteksi hingga dewasa, saat gangguan fungsi hati mulai muncul.
Di sisi lain, orang dewasa produktif pun tak jarang tiba-tiba mengalami kerusakan hati akut akibat hepatitis yang selama ini tersembunyi.
BACA JUGA:Bupati Edison Optimistis Muara Enim 2030 Zero Kasus TBC
BACA JUGA:Muara Enim Nihil Kasus Covid-19, Dinas Kesehatan mbau Warga Terapkan PHBS
Hepatitis atau peradangan hati yang disebabkan oleh virus, obat-obatan, alkohol, atau gangguan autoimun, masih menjadi beban kesehatan global.
Indonesia pun tak luput dari tantangan tersebut.
Ironisnya, banyak kasus hepatitis baru terdeteksi ketika sudah mencapai stadium lanjut, karena sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala awal.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 28 juta orang Indonesia diperkirakan mengidap hepatitis B atau C, namun hanya sekitar 10% yang telah terdiagnosis.
BACA JUGA:Penuhi Kebutuhan SDM, Pemkab Muara Enim Sekolahkan 15 Dokter Umum Jadi Spesialis
BACA JUGA:Yuk Cari Tahu! Ini Beberapa Manfaat Rujak Timun untuk Kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut hepatitis sebagai “silent epidemic”, karena gejalanya sering kali samar atau tidak muncul sama sekali hingga berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
Jenis hepatitis yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Hepatitis B, disusul oleh Hepatitis C.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
