Oleh: Venny Delviari, S.A.P, M.A.P. (Penulis adalah Pranata Keuangan APBN Mahir BPS Kabupaten Muara Enim)
SELAMA beberapa waktu terakhir, banyak investor di Indonesia mengamati sebuah fenomena yang menarik: ketika IHSG turun, harga emas sering kali naik.
Tidak hanya sekadar “kesan” di media sosial fakta ini juga tercatat dalam data pasar dan perilaku investor.
Ada dinamika dua arah yang penting untuk dipahami oleh siapa pun yang mengelola kekayaan, entah itu jangka pendek maupun panjang.
Seringkali ketika IHSG mengalami tekanan, investor mulai melakukan profit taking atau menjual saham mereka.
Salah satu alasan utama di balik aksi ini adalah pengalihan dana dari instrumen berisiko (risk-on) ke instrumen yang dianggap lebih aman (risk-off).
Dalam laporan pasar, IHSG tercatat turun hampir 1,95% ke level sekitar 8.066 poin, dan analis mengatakan penurunan ini ikut dipengaruhi oleh pergeseran dana investor ke aset seperti emas yang dipandang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.
Kalau dilihat secara perilaku pasar global, saham memang punya sensitivitas tinggi terhadap kondisi ekonomi makro dan geopolitik, sehingga ketika risiko semakin terasa, sebagian dana investor dipindahkan ke aset yang cenderung lebih tangguh terhadap gejolak jangka pendek.
Emas merupakan Aset yang Malah Naik Saat Saham Turun.
Di Indonesia sendiri, harga emas batangan mencatat tren naik tajam sepanjang tahun 2025.
Misalnya, data menunjukkan bahwa harga emas lokal seperti Antam naik sekitar 47,6% secara year-to-date (YTD) jauh melebihi laju kenaikan IHSG yang diperkirakan hanya sekitar 15% dalam periode yang sama.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di dalam negeri.
Secara global, harga emas terus mencetak rekor baru, bahkan menyentuh level yang luar biasa tinggi karena meningkatnya permintaan atas aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi.
Kenapa Dua Arah Ini Sering Terjadi?
Ada beberapa alasan kenapa IHSG dan harga emas sering bergerak dalam arah yang berbeda yakni saat risiko ekonomi meningkat entah karena konflik global, kebijakan moneter yang ketat, atau ketidakpastian lain investor cenderung menjual saham dan membeli emas untuk melindungi nilai kekayaan mereka.
Ini mendorong harga emas naik ketika saham jatuh.