Oleh: Venny Delviari, M.A.P (Penulis adalah Staf Sub. Bagian Umum BPS Kab. Muara Enim)
DI TENGAH arus informasi yang begitu deras, satu hal yang semakin disadari banyak pihak adalah pentingnya data sebagai fondasi kebijakan publik.
Tidak ada lagi ruang bagi keputusan berbasis persepsi dan asumsi belaka.
Pemerintah, akademisi, hingga masyarakat luas kini dituntut berpikir dengan logika yang berbasis bukti.
Dalam konteks inilah, insan statistik dan ilmu administrasi publik menemukan titik temu yang sangat penting.
Statistik, pada hakikatnya, adalah “bahasa angka” yang menjelaskan kondisi masyarakat.
Sementara itu, administrasi publik adalah seni sekaligus ilmu tentang bagaimana kebijakan dijalankan demi kesejahteraan rakyat.
Ketika keduanya berdialog, kita melihat munculnya sinergi: data yang diolah menjadi dasar kebijakan, dan kebijakan yang dirancang dapat lebih tepat sasaran karena dipandu oleh data.
Mungkin sebagian orang masih memandang statistik sebatas deretan angka yang rumit.
Padahal, setiap angka memiliki cerita.
Data tentang kemiskinan, misalnya, bukan sekadar persentase, melainkan kisah nyata tentang keluarga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Begitu pula angka pengangguran bukan hanya indikator ekonomi, melainkan potret tentang generasi muda yang tengah mencari arah hidup.
Di sinilah peran insan statistik menjadi penting.
Mereka bukan hanya “tukang hitung”, melainkan penerjemah realitas sosial.
Statistik memberi wajah pada persoalan publik, sehingga pemerintah dapat merespons dengan kebijakan yang lebih manusiawi.
Misalnya, saat data menunjukkan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi semakin meningkat, kebijakan yang dibutuhkan bukan sekadar membuka lapangan kerja umum, tetapi menciptakan program yang relevan dengan keterampilan mereka.