“Pelakunya pasti orang dekat korban!” , “Polisi tidak becus mengusut kasus ini!” , “Hukuman mati saja pelakunya!”.
Komentar-komentar tersebut tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga dapat berakibat negatif.
Pertama, dapat menghambat proses investigasi polisi karena informasi yang salah dapat menyesatkan arah penyelidikan.
Kedua, dapat memicu cyberbullying terhadap pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut, seperti keluarga korban, saksi, atau bahkan terduga pelaku.
Ketiga, dapat memperkeruh suasana dan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Fenomena “netizen maha benar” ini harus disikapi dengan bijak.
Kita perlu belajar untuk lebih kritis dalam menerima informasi di media sosial, dan tidak mudah terprovokasi oleh komentar-komentar yang provokatif.
Dengan menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan bertanggung jawab, kita dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih positif dan informatif.
Perlu kita ingat bahwa media sosial adalah alat yang dapat kita gunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Kita perlu menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab agar kita dan orang lain tidak terjebak dalam fenomena “netizen maha benar” yang dapat membawa dampak negatif. (*)