Krisis Ekologi Sumatera dan Urgensi Transisi Energi Terbarukan
Bagas Pratama. Foto : DOK --
Oleh: Bagas Pratama (Generasi Energi Bersih Chapter Palembang)
SUMATERA kembali dirundung bencana hidrometeorologi: banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang datang kian intens belakangan.
Kita menyaksikan berita korban jiwa yang terus bertambah, rumah yang hanyut, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
Sebagian orang menyalahkan cuaca, tetapi fenomena iklim ini turut diperparah oleh krisis ekologi.
Mengutip tulisan di Harian Kompas pada Kamis (4 Desember 2025) berjudul Kondisi Hutan Pemicu Utama Bencana, Siklon Senyar memicu hujan dengan intensitas tertinggi dalam sejarah pengamatan di Indonesia.
Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami kerusakan parah, dengan ratusan korban jiwa serta banyak warga masih dinyatakan hilang.
Namun pola dampaknya tidak sepenuhnya sejalan dengan besaran curah hujan.
Di sejumlah titik, justru kawasan yang tidak menerima hujan paling ekstrem mengalami kerusakan paling berat.
Hal ini menegaskan bahwa kapasitas lingkungan, mulai dari kondisi hutan, tutupan lahan, hingga stabilitas daerah aliran sungai (DAS) memegang peran lebih menentukan dalam membentuk tingkat kerentanan bencana dibanding sekadar banyaknya hujan yang turun.
Ada akar persoalan yang harus kita akui secara jujur: kerusakan lingkungan akibat deforestasi untuk eksploitasi kian melemahkan daya dukung alam, sekaligus tingginya emisi gas rumah kaca dari sektor industri yang kian memperparah krisis iklim.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang diolah Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menunjukkan kenyataan yang mencemaskan: Sumatera telah dipenuhi 1.907 izin usaha pertambangan aktif, dengan luas mencapai 2.458.469 hektar.
Dari jumlah tersebut, 217 izin berada di Sumatera Selatan, cukup menjadikan provinsi ini sebagai salah satu episentrum pertambangan terbesar di Indonesia.
Citra satelit Google Maps di wilayah Kecamatan Merapi, Kabupaten Lahat yang diakses pada 4 Desember 2025 memperlihatkan pola lanskap yang telah berubah drastis akibat aktivitas ekstraktif berskala besar.
Area yang ditandai dengan warna coklat terang dan bentuk tak beraturan menunjukkan lahan yang telah terbuka secara masif.
Pola ini tampak tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi menyebar hingga membentuk mosaik luas yang memutus kontinuitas tutupan hutan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
