Keterbatasan Kuota, Petani Sawit di Muara Enim Beralih ke Pupuk Non Subsidi
Petani sawit sedang melakukan panen Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Foto : Istimewa--
MUARA ENIM, ENIMEKSPRES.CO.ID - Kesulitan mendapatkan pupuk subsidi di berbagai daerah umumnya disebabkan oleh keterlambatan distribusi, data e-RDKK (Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) yang belum akurat.
Hal itu, menyebabkan kesulitan petani untuk mendapatkan pupuk subsidi, sehingga beralih ke pupuk non subsidi.
"Kalaupun ada rumit dan kuota terbatas yang sering habis sebelum masa tanam. Petani kecil seringkali tersisih akibat sistem tebus kartu tani, masalah jaringan internet, atau minimnya informasi," ujar Samudra (48), salah satu petani sawit di Kecamatan Muara Enim, Minggu 1 Februari 2026.
Dijelaskannya, petani pada umumnya lebih memilih pupuk bersubsidi karena harganya jauh lebih terjangkau, sesuai dengan anggaran usaha tani dan membantu petani mengurangi biaya produksi.
BACA JUGA:Kelompok Tani di Muara Enim Dapat Bantuan Pupuk 127,2 Ton
BACA JUGA:Petani Kesulitan Pupuk dan Racun Hama
Namun, kata dia, karena keterbatasan kuota dan kelangkaan di lapangan, banyak petani mau tidak mau terpaksa beralih ke pupuk non subsidi, apalagi stok selalu tersedia di pasar.
"Kualitas pupuk non subsidi lebih baik, ketersediaan stok yang mudah, dan hasil panen lebih maksimal meskipun lebih mahal. Kalau pupuk non subsidi di pasaran Rp400 ribu per kampil, sedangkan pupuk subsidi sekitar Rp200 ribu," katanya.
Dirinya berharap Pemerintah mempermudah akses dengan menebus melalui KTP atau kartu tani di kios resmi, didukung oleh aturan baru yang lebih efisien dan peningkatan kelancaran distribusi untuk menekan biaya produksi dan menjaga produktivitas, khususnya bagi petani kecil.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: