Serdik Sespimmen Polri juga mengingatkan bahwa satu titik panas yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi ancaman yang lebih besar bagi kesehatan, lingkungan dan perekonomian masyarakat.
BACA JUGA:Tuntaskan Misi Edukasi Karhutla, Mahasiswa S2 STIK dan Siswa SIP Pamit
BACA JUGA:Karhutla Seluas 5 Hektare Dekati Permukiman, Petugas Berjibaku 9 Jam Lakukan Pemadaman
Karena itu, patroli terpadu, pengawasan wilayah rawan, keberadaan posko siaga serta komunikasi cepat antara masyarakat, pemerintah desa dan petugas menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Kegiatan semakin menyentuh masyarakat ketika Tim Serdik Sespimmen Polri turut membagikan 10 paket sembako kepada warga.
Bantuan tersebut menjadi simbol bahwa upaya menjaga lingkungan harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap masyarakat. Pesannya sederhana namun kuat: menjaga alam berarti menjaga kehidupan.
Kasi Humas Polres Muara Enim, AKP RTM Situmorang, juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menjadi penonton ketika ancaman Karhutla muncul di sekitar mereka.
BACA JUGA:Polres Muara Enim dan Pasis Seskoad Bedah Risiko serta Dampak Karhutla
BACA JUGA:Polres Muara Enim Gaungkan Ancaman Karhutla
"Mari menjadi bagian dari pencegahan. Jangan membakar lahan, jangan menganggap remeh api sekecil apa pun dan segera laporkan apabila menemukan titik api. Kepedulian masyarakat adalah benteng pertama sebelum api berubah menjadi bencana," imbaunya.
Melalui penyuluhan tersebut, masyarakat Tanjung Agung diajak membangun gerakan bersama "Cegah sebelum terbakar, laporkan sebelum meluas, dan bergerak sebelum terlambat."
Tim Serdik Sespimmen Polri bersama seluruh unsur terkait menegaskan bahwa perang melawan Karhutla tidak hanya dilakukan dengan selang dan air, tetapi juga dengan kesadaran, kepedulian dan keberanian masyarakat untuk bertindak sejak dini.