Sayangnya, sekolah tidak selalu menjadi tempat yang aman.
Kasus perundungan (bullying), tekanan dari teman sebaya, dan perbandingan yang tidak sehat sering kali merusak mental anak.
Meskipun tidak ada anak yang terlahir nakal, anak yang terluka sering kali menjadi pelaku perundungan.
Homeschooling memberikan saya kesempatan untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan sosial anak.
Kami bisa memilih teman-teman bermain yang positif dan mendukung.
Tanpa tekanan perundungan, tanpa perbandingan yang tidak adil, saya yakin anak saya bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri.
Lingkungan yang aman dan suportif ini menjadi fondasi yang kuat bagi perkembangan emosional dan mentalnya.
Tentu, homeschooling bukan jalan yang mudah dan tidak cocok untuk semua keluarga.
Dibutuhkan komitmen tinggi dari orang tua, fleksibilitas waktu, dan kesiapan mental untuk keluar dari zona nyaman.
Terutama bagi orang tua yang terbiasa dengan sistem pendidikan formal, ini adalah tantangan tersendiri.
Namun, jika Anda merasa sistem sekolah konvensional terlalu membelenggu potensi anak Anda, homeschooling bisa menjadi pilihan yang membebaskan sekaligus menantang.
Ini adalah sebuah proses belajar yang tidak hanya dijalani oleh anak, tetapi juga oleh orang tua.
Kami belajar untuk lebih sabar, lebih kreatif, dan lebih memahami anak kami seutuhnya.
Di tengah hiruk pikuk perayaan kemerdekaan, realitas seringkali menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya merdeka.
Pemberitaan media massa dan media sosial kerap menyajikan kisah-kisah yang menunjukkan bahwa banyak anak masih terjebak dalam sistem yang tidak membebaskan.
Namun, bagi keluarga kecil saya, kami telah memilih untuk memerdekakan pendidikan anak melalui homeschooling.