Membangun Budaya Literasi di Bulan Ramadhan

Rabu 27-03-2024,15:21 WIB
Reporter : Sigit Eko R
Editor : Melina
Membangun Budaya Literasi di Bulan Ramadhan

Beberapa riwayat hadits menjelaskan tentang awal masa turunnya Al-qur'an. Diantaranya hadits riwayat Aisyah RA yang artinya: _Sesungguhnya yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah adalah mimpi yang benar diwaktu tidur. Dia melihat mimpi itu datangnya bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian dia suka menyendiri, dia pergi ke gua Hira, untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu dia membawa bekal, kemudian dia pulang kepada Khadijah RA, maka Khadijah membekali seperti bekal yang dulu. Di Gua Hira dia dikejutkan oleh suatu kebenaran, malaikat datang kepadanya dan mengatakan :"Bacalah, Rasulullah menceritakan, maka akupun menjawab "aku tidak pandai membaca". 

BACA JUGA:Dahsyatnya Menyambung Silaturrahim

Malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi, "bacalah"! Maka akupun menjawab, "aku tidak pandai membaca".

Kemudian dia merangkulku kedua kali, sehingga aku merasa amat payah, kemudian ia lepaskan lagi, dan berkata "bacalah" aku menjawab, "aku tidak pandai membaca". Maka ia merangkulku untuk ketiga kali, sehingga aku kepayahan, kemudian ia berkata, "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan....sampai dengan "apa yang tidak diketahuinya". Maka Rasulullah pulang dengan gemetar dan tergopoh-gopoh.

Meskipun dalam riwayat berbeda menurut pakar tafsir Manna'  Al-Qoththan mengambil jalur riwayat dari Sahabat Abu Salamah dari Jabir ayat pertama turun secara sempurna adalah surat Al-Mudatsir, namun jumhur ulama mengatakan bahwa ayat pertama turun adalah "Iqro' " yang bermakna "bacalah".

Dalam tarikh Islam, budaya literasi Al-qur'an sudah sangat akrab dikalangan umat Islam generasi pertama.

BACA JUGA:Dari Kami untuk Dunia Pers Nasional

Saat Rasulullah membacakan ayat-ayat Al-qur'an yang turun para sahabat dengan antusias mendengarkannya dengan saksama kemudian menghafal, juga menuliskannya.

Ada yang ditulis di pelepah-pelepah pohon kurma, tulang-tulang unta, batu-batu, pohon kayu dan lain sebagainya. 

Saat itu bahkan Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis hadits, karena khawatir tercampur dengan penulisan wahyu.

Hemat penulis, ummat Islam harus memiliki budaya literasi yang tinggi, terlebih apabila di hubungkan dengan literasi Al-qur'an.

BACA JUGA:Bulan Ramadhan, Bulan Perjuangan

Budaya literasi yang dimaksud adalah memiliki keterampilan membaca dan memahami teks yang ada didalamnya.

Hal ini tidak berarti  hanya membaca dan menghafalkan saja, namun lebih kepada memahami makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an.

Sehingga pesan-pesan Al-qur'an dapat aplikatif dan membumi kemudian bisa diamalkan secara bertahap, sebagaimana para salaf mengamalkan Al-qur'an.

Dalam sejarah Islam, Al-Qur'an dan literasi saling berhubungan satu sama lain.

Kategori :

Terkait