Peluang Efisiensi Atau Tantangan Kualitas
Dosen Universitas Serasan Muara Enim, yang juga Pemerhati Pendidikan, Zainul Marzadi, bicara soal kebijakan kombinasi WFO, WFH, dan PJJ dalam SE Nomor 2 Tahun 2026, menjadi langkah menuju sistem pendidikan tinggi yang lebih fleksibel, namun tetap membutuh--
MUARA ENIM, ENIMEKSPRES.CO.ID - Kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 2 Tahun 2026 oleh Kemendiktisaintek Brian Yuliarto, menimbulkan pertanyaan, apakah merupakan langkah strategis dalam menyesuaikan sistem pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi dan dinamika kerja modern.
Sebab, penerapan kombinasi Work From Office (WFO), Work From Home (WFH), dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menunjukkan adanya pergeseran menuju sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan adaptif.
Namun, implementasinya perlu dianalisis secara cermat, terutama dalam kaitannya dengan kualitas proses belajar mengajar.
"Secara konseptual, kebijakan ini dapat disebut sebagai bentuk blended system (kombinasi luring dan daring), yang jika diterapkan dengan tepat akan memberikan beberapa keuntungan," ujar Dosen Universitas Serasan Muara Enim, yang juga Pemerhati Pendidikan, Zainul Marzadi, Selasa 7 April 2026.
BACA JUGA:Satlantas Polres Muara Enim Bangun Karakter Kedisiplinan Siswa Lewat Pocil dan PKS
BACA JUGA:Bupati Edison Pimpin IKA USU Wilayah III Periode 2026-2030
Keuntungan yang didapat, kata dia, efisiensi dan fleksibilitas karena pola kerja WFH satu hari dalam seminggu memberi ruang bagi dosen untuk mengembangkan bahan ajar digital.
Kemudian, melakukan riset (tridharma perguruan tinggi), mengelola waktu lebih efektif.
Sementara itu, PJJ yang diterapkan secara proporsional memungkinkan mahasiswa, khususnya semester atas, untuk belajar secara mandiri.
Selain itu, kebijakan tersebut tepat karena tidak memaksakan PJJ pada semua mata kuliah.
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Dorong Penguatan Karakter Generasi Lewat Sekolah Berasrama Religi
BACA JUGA:Disdikbud Muara Enim Pastikan Kelancaran SPMB 2026 Lewat Sosialisasi Menyeluruh
Artinya, penyesuaian berbasis karakteristik program studi.
Di mana program studi berbasis praktik (kedokteran, teknik, laboratorium) tetap mengutamakan tatap muka, sehingga substansi keilmuan tidak terdegradasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: